Tubuh Yang Tumbuh Tanpa Suara
Pernah aku tiba dengan mata yang ingin merengkuh tubuhmu. Tapi kau mengelak dan membiarkan tafsir mataku menggelombang,Tanpa silsilah ayah dan ibu. Padahal amat kuingin sekarat yang nikmat ini. Sambil melihat tubuhmu menari, di geliat lampu lamat dan dengus maut yang kesumat. Walau tetap kau tak acuh padaku. Lupa pada temu di padang arafah dulu.
200 tahun kukhayalkan perjumpaan ini. Tanpa matahari—aku telanjang mendaki bumi, tanah, jejak, hasrat, basah di pangkal lidah, dan lubuk tempat nikmat melontar kita dari dekap harum surga. 200 tahun kukhayalkan tubuhmu lekat pada tubuhku. Pada jasadku yang kian merapuh, karena tak usai mengeja namamu, ayah, ibu, tuhan, dan (hantu!). 200 tahun kukhayalkan hanya untuk melihat jasadmu mengeras dan meledak menjadi kota-kota tanpa suara.
Dan kini jasadmu menyusun percakapan, tentang tetangga sebelah yang telah membeli sejarah lain, lepas dari keluarga, kebun belakang rumah, dan sekolah. Aku termangu: membayangkan kau berceloteh tentang surga, nikmat pertama kita. Dan dalam laknat, tubuhku pun berkhianat. Dendamku mencair, mengalir, memenuhi jasadmu dengan peluru dan mesiu. Tubuhmu pun kian kacau. Bahasa tinggal sesal.
No comments:
Post a Comment