punyaa q

punyaa q

Tuesday, June 7, 2011

bangku kayu dan siapa nama aslimu

bangku kayu dan siapa nama aslimu

sayang aku tak sempat bertanya
siapa nama aslimu

di cuaca beku, kita bertemu
berjabat tangan, bertukar alamat
memperlihatkan potret diri masing-masing

seperti tak ingin jadi palsu

ada cengkerama di pemakaman di sebelah taman
kutunjukkan potret ayahku--
tekun, di beku bangku kayu
menjahit pakaian ibu
sedang kau mengurai lapuk serpih salju
lapangan rumput, kawanan kupu
dan kalimat-kalimat yang telah jadi yatim
dalam buku harian

lenguh kita hilang di telan kenangan
tubuh mencair, membasahi dedaunan
menguap, membentuk sehimpun asap ungu
berikut bayang panjang
di kolam tengah taman

—seandainya dirimu kekal di situ
di bangku kayu, di huruf buku
di pose lelah lelaki
yang memegang payung di sisi pintu sebuah binatu

tapi, mungkin kenangan pun palsu
tak terbayang oleh kepala yang beku

“mungkin kita dapat tamasya bersama?” katamu

kita bisa mainkan drama yang dikarang ayah
sebagai pembunuh waktu
kau bisa menulisi kembali buku harian
dan aku menyiram bunga plastik
di sisi pagar halaman rumah-rumahan

“ seperti dulu,” kataku

sebelum kau berkenalan denganku

sebelum ada kota lain, di tengah cuaca palsu
di bangku kayu, di pemakaman itu

narcissus

narcissus

1
di hijau air dan rumpun bambu ada wajah malu-malu
bermata cahaya berambut hitam lembah

di angin tipis dan gerimis harum rempah
ada kijang kencana dan kolam bening kaca

alangkah indah wajahku
alangkah megah diriku

istana yang dibangun getar bibir dan ricik air
istana pasir

sebersih salju

langit selepas hujan

semegah hidup
jantung yang tak henti berdegup


2
apakah salah
kukagumi wajah

peta
tak berarti tanah

metafora
di balik benda

nama-nama
pakaian belaka

di wajahku
kubus-kubus air
menyusun piramida

dan sungai purba
berlekuk pinggang naga

dan singgasana
dan pohon 200 tahun kitaran kuda di sampingnya
sulurnya menyimpan nyawa
daunnya—sejadah makhluk cahaya

di ranting dan dahan
hinggap burung waktu
berbulu hijau dan biru
mematuk-matuki gambar wajahmu


yang bila melepuh
berarti ruh
akan segera meninggalkan tubuh

kembali ke muasal kisah
penghulu segala resah

menjadi debu kembali
menelusup ke lubuk sulbi

lalu air mata jadi pelepas dahaga
tuan penguasa singgasana

“kita satu keluarga,”
katanya


3
bunga bungur gugur dari matamu
di jalan kuning berpagar lapuk coklat syahdu
wajahku pernah ada di situ
mengintipmu dari celah pepokok kayu

“mengapa kau tak lagi jatuh cinta padaku?”

“aku jatuh cinta kepadamu”

“mengapa tak pernah kau tatap lagi wajahku?”

“karena hanya kulihat wajahku—di wajahmu”

angin lembab dan matamu sembab

ada yang ingin kau sampaikan
ada yang kulepas dari genggam

4
empat puluh hari kau berpuasa
memperhatikan keluar-masuk nafas
melihat cerlang matamu
di kolam tubuhku

kau terperangah
melihat warna mata berganti-ganti
masa lalu hadir
merangkak dari liang kalbu

“siapakah itu?” katamu
pada wajah yang muncul di bening tubuhku


“kamu”, kataku
“tanpa masa lalu”




5
ibu adalah tunas pemberian masa lalu
masa lalu adalah tugas yang serupa sembilu
sembilu adalah bayang yang memerangkap wajahku

6
setiap musim—aku belajar
menata keping batu di pinggir kali
mendahulukan yang harus didahulukan
menyempatkan yang biasanya terlupakan

wajahmu
tergambar di keping batu itu
hening
batu yang tersusun dari patahan waktu

dan di urat hijau yang melintang di keningmu
terekam percakapan dua orang ibu--
pantas, aku kerap melihat wajahku
di wajahmu

7
mengapa kau sering merasa sia-sia
ketika mengeja usia?

tak dapat kaunikmati hening
pada pagi yang muncul laiknya perawan
yang rambut ikalnya menguning padi
yang kerling matanya umpama api

mengapa kau merasa aku menyimpan rahasia
di deru senggama dan gerak tertahan sukma









8
biru langit, buah zamrud, dan basah lumut
kecipak air, kelepak elang

wajah asmara
termangu melunta

betapa megah
wajah

betapa kekal
kesal

ribuan kali kelahiran
tak jua sampai

kerisik bambu
kerisik
kalbu

9
hijau danau
akasia rapuh
di tengahnya

padang ilalang
gubuk runtuh
di pinggirnya

bening kolam
dan sekilas wajah
betapa megah

Sunday, June 5, 2011

Djejak Roemah Terakhir

Djejak Roemah Terakhir

1

ada sekilas jejakmu kulihat di tanah berpasir
segera hilang di kening sore terakhir
meski lidah laut mengais-ngais ingin memanggil
kerlingmu lenyap, sisakan riwayat yang mungkir

sore redam, laut lebam, suhu teduh di sisi perahu runtuh
di senyap—aku berlayar
berselancar di keheningan
bertamu di lubuk kabut
dan menceracau menyebut ujudmu samar

kucari kau di situ; di antara gerak ragu dan perahu runtuh
kukais jejakmu, ruh yang ingin sekadar sauh
kutunggu kau di situ; di belukar semak dan jalan setapak
meski berahi padam, di sela azan menghambur datang

aku tahu—tak ada yang abadi di tanah berpasir ini
matahari tak di nanti, seperti kopi pagi hari
dan pelukan erat sang istri
tapi, di kekelaman hutan dan rumpun kabut menjelang malam
pasti kau tahu—aku akan selalu menunggumu
menggurat lagi letih jejakmu. Tanpa debu untuk disapu
tanpa paku atau sembilu

2

tubuhku penuh luka akibat pisau pada ciummu.
kadang di akhir dengus percakapan
pernah ingin kulunaskan percintaan ini
tapi, jejakmu kerap membuatku ngeri
sejumlah pulau pernah kau jangkau
membuat bakau tubuhku tenggelam separuh badan
aha, di kelindan duri dan cecap berahi
kau berteriak meminta mati!

















3

jejakmu cuma cap bahwa kita pernah dekat
tak usah menunggu
untuk sesuatu yang kau ragu
pernah kuucap dulu—ada sebutir peluru
di siku saku bajumu
mungkin kau lupa dan balik menuduhku


kita hidup, bercinta, dan saling meraba
tidak untuk apa
hanya mengukir alur luka
di kujur kulit fana,
menelisikkan asing di tubuh masing
membenamkan kelam
waktu kau dan aku saling genggam

ciumanmu akan selalu tinggal rahasia
di ujung lidah basah
dan musang di perut yang meronta

lewat diam—akan kutorehkan jejakmu kini
dan kau takkan pernah mati

bulan dalam kendi

bulan dalam kendi

1
melewati peluh belukar malam
aku bersamamu

menyusuri lekuk rimbun taman
tertatih kau bersamaku

mata nyalang mencari-cari
di manakah bunga dinamakan api

memasuki kecut lidah kabut
kau dan aku gugup

membayang hujan bergandeng tangan
kau - aku menduga angan

apakah itu dendam bisikmu redam
saat kunang lebih cekam ketimbang pedang

engkau perempuan
aku sehimpun diam

2
apa dicari
selarik tamsil pada musim

berapa umpat kau simpan
hingga tak sanggup kutelan

apa kan ditebak
bila degup kian congkak

berapa kan terbilang
bila diri perlahan hilang

mengapa kau diam
tak inginkah kau telanjang

bila bosan kau sibak malam
sempurna sudah pertemuan

tak guna baju terpakai
jika jantung mendegup lunglai

apa dinanti
selarik diri dalam puisi

apa dicari
selarik puisi dalam diri


3
kau ucap namaku
lalu namaku
melarut ke dirimu

kuucap namamu
lalu namamu
melesap ke diriku

kita lupa nama
lupa wajah
penuh luka

nama kita lupa
atau luka
tanpa nama

lalu di mana wajah
bila lupa
pada luka

kau ucap nama lupa
kuucap nama luka

wajah yang lupa nama
wajah yang lupa luka

4
kau memata-mataiku

padahal matamu
api dalam mataku

sempurna

cawan sepasang sungai

cawan sepasang sungai

Dua sungai yang lama tak bertemu kini telah bertemu
Mereka berpelukan, setelah tegur sapa terlupakan
Mengisahkan kenangannya masing-masing
Tentang masa kecil, tentang luka di lengan
Tentang malam terakhir persetubuhan
Di sebuah atap rumah
Saat purnama menjanda
saat kabut berlari ke sana-ke mari
Menggonggong seperti anjing dan burung jalak
Ketika musim semi merekahkan sabdanya
Ketika keinginan untuk bertemu
sama kuatnya dengan keinginan untuk berpisah

Di sana mereka bertemu kembali
Sungai pertama memperlihatkan boreh di pipinya
“tanda ini kudapat saat aku berusaha mencium bibirmu,
dan kau tak mau,” katanya
sungai kedua tersenyum,” itulah akibat bila kau meragu
di tengah pilihan untuk tak meragu,” ujarmu

tapi sudahlah, semua telah berlalu
berlalu seperti bulu-bulu hari yang berlepasan, berterbangan
ditiup lidah angin yang takkan kunjung usai

dan borehan itu—adalah masa lalu
Dan masa lalu adalah
air yang pernah mengalir di tubuhmu
tak ingin menetap, tak ingin menjadi abadi,
tak ingin mati, dan angkuh seperti batu|
yang selalu bersitegang kepada waktu
dan kau, kekasihku. Dulu..
ujar sungai pertama sambil meninju kecil
ujung lengan baju sungai kedua

takkah kau lihat bekas gigitanmu di leherku, kata sungai kedua
kau rupanya geram dulu
saat kau tahu kalau aku telah berselingkuh dengan Waktu
untuk menjadi abadi
di alir nadi.
Rupanya kau merasa malu
Mengapa sungai pejantan seperti kau
Harus takluk di bawah bibir sungai perempuan
dengan keangkuhan yang tak jelas juntrungnya itu
Kau lampiaskan dengan mengigit leherku
Menggigit perjanjian antara aku dan Waktu

Tapi, itu masa lalu


Dan kini kita bertemu


Bukankah isyarat ini buah pohon Waktu
berulangkali lahir tanpa kata akhir
Tanpa tanda seru

Sepasang sungai yang bersetubuh
Seperti sepasang merak yang pancarkan warna purnama
Cahaya yang jadi ilham hujan dan kemarau
Untuk acuh kepada debu atau dingin ruang tunggu

Dan, buktinya, aku tetap menunggumu

Ya, kau tetap menungguku

Bukankah menunggu adalah bagian lain setangkup musim
Segulung peta, bersit koma
Dan jeda saat kereta tiba
Saat penumpang bergegas mengusung jenazah

Bukankah menunggu adalah istirah
Perihal yang selalu muncul dari mata air rutin
Secabik hening di antara praduga
derita yang bahagia

Dan, kau juga menungguku

Sebenarnya aku menunggu diriku sendiri
Memastikan, apakah laut yang asin
Tetap mengandung garam

Suasana yang terbangun dari buah makam cahaya
sSekerjap bidikan di atas badan sang pencipta
Iringan jenazah, tangkai bunga, dan
Altar penuh darah

Darah yang terbit
dari keinginan
menjadi abadi
jadi duri
Bagi Waktu,
bagi lintasan kematian yang selalu berkunjung
Seperti tukang pos yang hadir di depan rumah
tergesa mengetuk pintu
Mengantar surat lamaran
Dari pemilik malam

Atau semacam metafora

Istilah untuk mengatakan yang tak terkatakan--
Buih dan rona koral di pipi lautan
kering mulut pantai ketika pasir terbakar

Bukan oleh api dan badai, tapi oleh hasrat
Untuk menguasai diri
Pertapaan yang kau kunjungi setiap saat
Setiap detik, hingga ke abad

Di jubahmu yang kuning dan berdebu
Waktu sembunyi umpama kepala penyu
Umpama racun ular, dan raung kucing hutan
Saat ingin mencekam lawan
Saat ingin menerkam diam
Bulan karam di bawah lidah
Lidahmu menyimpan rumpunan dedaunan
Daunan itu yang selalu menzikirkan nama tuhan
Tuhan yang mengembarai badan
Badan di mana bulan pun karam
Metafora. Kalimat tanpa warna

Kalimat yang kau bisikkan berulangkali padaku
Yang kini terlampau tua
Dan hancur oleh geram cuaca

Cuaca. Warna. Sulaman kebun teh dan hijau daun angsana
Mahkota para dewa. Cahaya tipis dari seruling
Para raksasa

Kini aku ingin melihat kenyataan. Tanpa cuaca
Tanpa praduga
Aku ingin kau berkata apa adanya
Tanpa prasangka
Melihat sungai hanya sebagai sungai
Melihat air dan turut mengalir
Melihat laut—dan kau melompat bersama kabut
Bersama tiang-tiang kapal, liukan ikan
Dan gelisah mata mercusuar

Metafora dan mataku telah menjadi buta

Cukup lama kita saling melupakan
Cukup lama kita saling meninggalkan

Padahal muara—tempat di mana kita akan saling menjumpa
Telah lama menanti dengan pasrah
Muara adalah mahligai perkawinan
Aku dan engkau
Masa lalu dan masa depan
Perkawinan dan perceraian

Karenanya, kekasihku, sungai bergambar bulan
Peluk aku sekarang
Dan jangan berkomentar
Cukup bila kau diam
Hanyut segala silam

Pegang tanganku dan hayati sedih waktu
Yang tak mampu memerangkap kita
Dengan bilah-bilahnya yang angkuh
Karena kita berdua sungai
Dipisah oleh tanah
Tapi bersatu dalam gelora

rumah hujan dan waktu

rumah hujan dan waktu

waktu turun bersama hujan.

perempuan
bersejingkat, menepi ke pelataran

aku mengintipnya dari balik tiang batu,
di pelataran gedung,
di seberangnya

menerka-nerka,
apa yang sedang dipikirkan perempuan --
apakah tentang secangkir teh hangat,
rombongan orang berpayung atau tentang aku,
yang menatapnya lekat
di balik tiang batu

hujan yang turun, adakah
rencana baru dari waktu

siapa di antara kami berdua
yang harus pergi lebih dulu
meninggalkan gedung itu

sangkar sang waktu

Tubuh Yang Tumbuh Tanpa Suara

Tubuh Yang Tumbuh Tanpa Suara

Pernah aku tiba dengan mata yang ingin merengkuh tubuhmu. Tapi kau mengelak dan membiarkan tafsir mataku menggelombang,Tanpa silsilah ayah dan ibu. Padahal amat kuingin sekarat yang nikmat ini. Sambil melihat tubuhmu menari, di geliat lampu lamat dan dengus maut yang kesumat. Walau tetap kau tak acuh padaku. Lupa pada temu di padang arafah dulu.

200 tahun kukhayalkan perjumpaan ini. Tanpa matahari—aku telanjang mendaki bumi, tanah, jejak, hasrat, basah di pangkal lidah, dan lubuk tempat nikmat melontar kita dari dekap harum surga. 200 tahun kukhayalkan tubuhmu lekat pada tubuhku. Pada jasadku yang kian merapuh, karena tak usai mengeja namamu, ayah, ibu, tuhan, dan (hantu!). 200 tahun kukhayalkan hanya untuk melihat jasadmu mengeras dan meledak menjadi kota-kota tanpa suara.

Dan kini jasadmu menyusun percakapan, tentang tetangga sebelah yang telah membeli sejarah lain, lepas dari keluarga, kebun belakang rumah, dan sekolah. Aku termangu: membayangkan kau berceloteh tentang surga, nikmat pertama kita. Dan dalam laknat, tubuhku pun berkhianat. Dendamku mencair, mengalir, memenuhi jasadmu dengan peluru dan mesiu. Tubuhmu pun kian kacau. Bahasa tinggal sesal.

jembatan

jembatan
:shah kalana al laila

jembatan di pusar kampung ini berkali-kali rubuh
kakinya lesak ke sungai, seperti menghempaskan diri
ke lubuk paling sepi
dari musim, harapan, dan surga yang telah dipesan
setiap orang

jembatan ini menghubungkan dua bandar
dua igau: langit dan bumi
ia wasilah bagi penangkap tekukur waktu
yang biasa beterbangan di bayang kuku
ia mengumpulkan pecahan-pecahan garam, kristal,
yang dibawa dari laut, dari pulau di seberang

“belilah kayu yang telah dirajut jadi peci ini
niscaya kau selamat dari laknat mata jahat
atau tiup rayu iblis yang tak berkehendak
kau menetap”

tapi aku ingin jembatan itu kukuh
aku ingin menempuh jalan menuju kiblat
semua desa semua kota. aku ingin berdiri di tengahnya
dan melihat perahu-perahu bergegas
mengangkut manik-manik keringat dari pusar
menuju cahaya di kepala
di jembatan itu—ruang dan waktu bersetebuh
untuk melahirkan kampung, sungai, dan perahu-perahu
baru. yang lucu

dan kalau kau ingin—kita pun bisa membeli pulau
di bawahnya, membangun makam keramat di tengahnya
dan berkunjung tiap bulan maulid tiba
untuk berdendang mengguncang khayangan
dengan sebait kalimat paling murni
yang pernah keluar dari mulut ikan-ikan
di muara paling dalam
di muasal cahaya datang




jembatan ini menghubungkan dosa para hantu
dan kau yang terus menjadi batu

2010

AIR PANCURAN DALAM KENDI

AIR PANCURAN DALAM KENDI

Hujan menyimpan dendam
pada tanah ini,
Detak jantungku gemuruh,
serta badan merinding dingin.
Tapi, apa mampu kupercaya takdir?.

Perempuan itu mempercepat langkahnya. Tinggal samar daun di ujung kelokan. Aku mencari tempat berteduh . Di bawah kubu kayu kuraba saku. Kusulut pentol korek api lalu susun ranting sisa musim kering.
“Tolong,”suara samar dari kejauhan. Ilusiku berkecamuk, au berdiri menatap sekelilingku. Aku bergegas menuju sungai. Aku terperosok di semak-semak. Bangkit dan kuyup. Di antara juntai akar Cempaka tua. Ada perempuan di sana , rambutnya masai dan patahan dahan yang menutupi sebagian tubuhnya, segera kusingkirkan. Bibirnya gigil, nafasanya terengah tangannya memapah di bahuku.
Di kubu bumbu kami duduk di tumpuk kayu. ” Aaaggkk,” tiba tiba Ia menjerit. Perihal jangkrik melayapi lengan kirinya. “ Kau cari ini,”selidiknya sambil melempar korek api ke arahku. Upps,. Beruntung kumasih ingat silat Kuntau peningalan leluhurku, sambil melompat dan menangkap korek api. Kupercikan api, di ranting dan kayu. Asap perlahan mengepul, tapi baju kami masih kuyup.
Kucoba pecahkan hening di antara kepul asap. ” Punya nama,”tanyaku padanya. Tapi, Sekedar gemeritiik api terdengar. “Oya, tunggu sebentar, aku lekas datang,” kataku padanya.Sepasang matanya memerah.
Barangkali di belakang Kubu ini ada sesuatu yang bisa kudapatkan. Tak ada cahaya bulan, sekedar ucapan selamat datang dari kawanan kabut. Sebatang korek api kuhidupkan, di dekat tungku ada sebuah kaleng bersumbu dan masih ada minyak tanah. Kukawinkan kan saja api ini dengan sumbu, lumayan sebagai penerang dadakan. Tak kuasa api menahan sapuan angin. Hingga Kelam tak mampu kuelakkan.
Aku hendak berbalik menuju Kubu bambu. Tiba-tiba tangan kananku menyentuh juntaian seperti gerai rambut.
Petir tak kunjung mangkir. Suara gesekan batang-batang, hujan seperti menyimpan dendam pada tanah ini, hingga baru sekarang bisa ia rampungkan. Detak jantungku gemuruh, badan merinding dingin. Sepucuk Al Annas kulafazkan. “ KraaaK,” tiba-tiba dahan patah. Tak peduli Hantu atau Buyutnya Jin, Lakum dinukum waliadin.
*****
Sebatang pentol korek kuhidupkan. Samar terlihat buah jagung mulai ranum, tiga onggok kubawa ke Kubu, yang entah jagung-jangung bertuan pada siapa?
Sesampainya di Kubu,tiga onggok jagung kupepulkan di api . Di mana perempuan yang duduk di sini, pikiranku berkecamuk. Jangan-jangan dia jadi santapan binatang buas. Aku memastikan di sekitar kubu, tapi tak ada jejak yang membantu. Langkahku tertuju pada punggung jurang, hulu sungai, dan rumpun belukar. Tapi tak juga kudapatkan.
Aku terjerembab di licak tanah. Guyur hujan dan tipis cahaya bulan.” Trazzz,” sendal jepitku putus. Tapi, aku terus percepat langkah. Di kelok jalan, sekedar guntur terdengar dan serakan daun-daun beracakan.
*****

Dahan cempaka tua terkoyak. Aku balik arah menuju kubu bambu . Tapi, sebelum tiba di sana. Aku berjumpa seorang lelaki kurus tinggi, jubahnya hitam , muka tak jelas bentuknya.
“ Kau mencari sesorang,” ujarnya seketika . Suaranya berat parau wajahnya menghadap bumi.”Ya, Aku sedang mencari perempuan bercadar biru benur, balasku.
“ Carilah sebuah pohon pinus yang membungkuk ke arah pematang, “tuturnya . “Setelah kau temukan pinus itu, turunlah ke lembah jurang dekat rumpun bambu betung, “Katanya lagi.
Tiba-tiba , ada kumbang semayam di betisku. Setelah kumbang itu kulepas lalu kulempar jauh. Aku hendak bertanya pada si jubah hitam, tapi ia menghilang. Nafasku bak pacu guntur musim hujan. Sepasang bola mataku terbelalak, bulu kudukku meruncing. Kemana perginya si jubah hitam,selidikku .
Ini bukan alasan untuk hentikan pencarianku. Angin menyapu kuyup daun-daun, gesekan batang-batang dan cekam hutan. Kuarahkan leherku kekanan dan kekiri sambil susuri rimbun semak, berulang-ulang kulakukan.
Aku ingat pesan si Jubah hitam : “ Carilah sebuah pohon pinus yang membungkuk ke arah pematang, Setelah kau temukan pinus itu, turunlah ke celah jurang dekat rumpun bambu betung”. Aku menemukan pohon pinus itu. Daun-daunnya lebat dan kuyup ada juga sisa sarang lelawa. Di bawah pinus, kudapati sosok perempuan. Pasi wajahnya, bibirnya gigil, rambutnya masai, lancip hidungya terasa di telunjuk jariku.
Mata perempuan itu bak genang danau Ranau. Kutuntun ia menuju kubu bambu dengan tatih langkah dan dilengkapi deras hujan, aku memapahnya.
DI atas tumpuk kayu, kubu bambu. Perempuan itu sandar pada kayu kayu yang berdirikaku.. “Tunggu sebentar aku hendak ke jurang, “ ucapku . Dengan sisa cahaya bulan, kujejal terjal jurang. Bekali-kali kau terpeleset, nyayris perutku di robek tunggul kayu.
*****
Di Jurang, kudapati sebuah batang bambu melintang dari atas gundukan, panjangnya kira-kira 47 Cm. Sebatang korek yang berhasil kuhidupankan. Kuamati di sekeliling, sambil memastikan sebuah rumpun bambu betung . Kakiku menyentuh sebuah gundukan, hampir teriinjak. Ada sebuah kendi dengan lobang di bagian atasnya pecah sebagian. Kuangkat kendi yang mungkin sudah menahun di jurang ini. Kubersihkan dengan hiliran sungai kecil, lalu kuisi dengan air pancuran jurang betung.
Setelah penuh kendi itu. lagi kudaki miring jurang, tangan kananku mengamit kendi, tangan kiriku berpegang di juntai liar akar. Setelah sampai di puncak jurang. Aku lari-lari kecil, lobang kendi kututupi dengan gulungan daun sirih.
Sesampainya di kubu bambu. Kudapati perempuan itu dengan sepasang sayu matanya.
“Ini minumlah,”sembari kusuguhkan kendi padanya. “Air apa ini,” balasnya. Air pancuran dari dalam jurang betung, semoga bermanfaat untukmu” imbuhku.
“Tidak, aku sangsi ,”tandasnya.
” Mengapa,”kejarku.
Karena aku tak mengenalimu, kilasnya.
Apa mesti kujulurkan silsilah keluaraga untuk meyakinkanmu bahwa air dalam kendi itu, tak kucampur tuba, ujarku .
“Bagiku perlu,” balasnya.
“Dalam suasana seperti ini,kau masih inginkan sebuah pengakuan,” tanyaku.
“ mengapa kau sasar di sini,” sambungku lagi
“ ya, karena aku perempuan, “imbuhnya.
“ aku dan kawan-kawan satu kampus, kemah di TaHuRa ini.
“ di mana para sahabatmu itu, “ kejarku.
“kami berpisah, karena ada Beruang Ngamuk di hutan itu” jawabnya dengan sengal nafas.
“ mengapa kau bertanya seperti itu, lalu untuk apa,” ujarku.
“ untuk perjalananku,”tandasnya.
“ mengapa kau begitu ingin tahu tentangku,” sambutku.
“ sederhana saja, karena engkau ada,” balasnya.
“ jika itu jawabanmu, akan kukatakan siapa aku : aku adalah pengembara, sejak enam puluh lima tahun yang lalu. Apa yang kau kembarakan, selidiknya.
“ aku mencari anakku, yang hilang ketika tragedi gempa di kampungku pada tahun 1945.
“ laki-laki, Ujarnya”. “ Bukan, tapi perempuan, sahutku.
“ Boleh tahu siapa namanya, sambungnya.
“ kuberi dia nama Cassia” kataku.
“ cassia, apa maknanya, sambungnya lagi.
“ cassia adalah nama tumbuhan berkulit coklat segar dan berasa manis,” runtun kalimatku.
Lalu perempuan itu megeluarkan sebilah kayu manis dari lingkaran temali di lehernya.
Barangkali jika air pancuran dalam kendi itu tak kudapat, tak jua ia meneguknya, mungkin sampai waktu yang entah, aku tak percaya pada takdir. Meskipun takdirku sendiri. Tapi kini aku doaku tentangnya hijab.

Bandarlampung,2007-2010.

Reinkarnasi Ibu

Reinkarnasi Ibu

AKHIRNYA mobil itu meninggalkan lapangan parkir yang basah. Hujan sedari pagi membasahi jalan-jalan kota yang dipenuhi guguran daun. Di dalam mobil terlihat seorang perempuan menangis dengan hening. Tak ada yang ditatapnya selain jalanan yang sepi. Tangannya sibuk di belakang kemudi. Sesekali dia mengusap air mata. Tak ada yang abadi, pikirnya. Tak ada yang abadi selain perubahan.
Dia ingat ketika tiba-tiba saja ayahnya mengabarkan kematian seorang ibu. Kenangan yang berlompatan muncul di tidur malamnya. Ibu yang disayangi harus pergi tanpa dimengerti. Perempuan itu bertambah dewasa dan selalu riuh dengan keseharian. Akhirnya dia berusaha melupakan siapa ibunya, bagaimana rupa wajah, dan berusaha melupakan siapa yang melahirkannya. Waktu telah mengubah dia dengan segala fisiknya.
Tapi, pagi ini perempuan muda itu menemukan kembali bayangan ibu kandungnya. Di tempat dia bekerja: sebagai tukang sapu. Kenyataan tak diterima perempuan itu, ibu yang dia lupakan hadir kembali dengan status yang lebih rendah.
Kelebat waktu yang berloncatan menimbulkan lelatu pada bayangan masa lalu. Ditemuinya tukang sapu yang sedang sibuk mengelap kaca-kaca jendela di dalam ruangan ber-AC itu, ditatapnya lekat-lekat. Mulutnya tiba-tiba saja kaku tak dapat berucap apa pun. Kata-kata yang sudah diaturnya tiba-tiba saja tertahan di pita suara. Perhatiannya tak lepas dari wajah yang mulai memunculkan keriput-keriput. Ira tak mau kalah seperti kemarin yang langsung pulang untuk menghilangkan ketidakpercayaan. Jalinan masa lalu membawa Ira pada ibu di tahun 80-an. Pada penderitaan sebuah hati yang harus pergi bersama waktu untuk berubah.
***
Tapi mencapai reinkarnasi itu membutuhkan waktu ratusan tahun di alam sana. Perputaran lahir dan mati bukan waktu yang sekejap. Ada proses yang rumit, dan aku sendiri tak mengerti. Tak semudah membalikkan keadaan. Sekarang ini baru beberapa tahun berlalu. Dia muncul dengan keadaan yang begitu istimewa di kantor ini. Tukang sapu! Sosok yang aneh muncul setelah proses yang rumit. Aku pikir akan hadir seorang sosok yang lebih baik. Ternyata.... Tak kubayangkan dia harus menjadi ibu kedua dalam hidupku. Ibu yang tak pernah aku sangka dan pernah aku lupa. Kubayangkan ibu baruku seorang tathagata, tapi bukan. Dia hanya seorang yang mungkin kusesali kehadirannya.
Begitu saja lelatu itu menyulut kerinduan akan sosok ibu yang tak pernah aku ungkit selama ini. Di mana duniaku bersatu bersama keriuhan kota yang menjelma menjadi kesibukan-kesibukan. Ah... kusingkirkan sosok itu, tak kubiarkan pusat perhatian beralih pada perempuan yang belum kukenal. Entah siapa dia, dan dari mana datangnya aku tidak tahu. Kembali aku sibuk, membiarkan perempuan itu bekerja sampai meninggalkan ruang kerjaku.
Pada titik-titik kejenuhanku, muncul keinginan untuk mengenang masa lalu. Kembali ke desa sejenak, mengunjungi keluarga ayah di sana. Tapi kuhentikan keanehan ini, mungkin ini timbul karena hadirnya perempuan itu. Tak aneh jika itu yang terjadi, karena selalu saja tanpa diperintah tukang sapu itu selalu mencuri perhatianku. Seolah tahu bahwa aku pernah memiliki seorang ibu yang mirip dengan dia.
Kuangkat telepon dan terdengar seorang yang berusaha meyakinkan aku bahwa tukang sapu itu ibuku yang kembali setelah bereinkarnasi. Kutanyakan siapa penelepon itu tapi seseorang di sana tak menjawab dan menutup sambungan telepon. Aku tak memedulikan semua itu, aku kembali sibuk dengan pekerjaanku.
Satu sore ketika hendak meninggalkan kantor, aku dan tukang sapu itu berada dalam satu lift. Turun lalu menuju luar gedung. Aku tunjukkan sikap sebagai pimpinan tapi apa yang terjadi tukang sapu itu sengaja mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang tak asing lagi bagiku, lagu yang sering mengantarkan aku ke dunia mimpi. Ya, lagu yang aku hafal bahwa itu adalah lagu yang Ibu buat untukku karena aku sulit tidur ketika kecil.
Setelah melihat gugusan bintang dan sabit malam, aku segera mendorong Ibu ke kamarku untuk menunggui aku tidur. Karena juga tak terlelap, Ibu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Lagu yang menceritakan hujan, angkasa, bidadari, dan istana langit. Mendengar lagu Ibu, aku semakin tak dapat tidur. Aku meminta Ibu bercerita tentang hujan, angkasa, bidadari, dan istana langit. Aku ingin ke sana ke istana langit, tempat kakek dan nenek yang tak pernah aku jumpai dan selalu mendoakan aku yang ada di bumi. Tapi Ibu berkata bahwa yang akan bersama kakek adalah Ibu terlebih dahulu dan kemudian Ayah. Aku hanya merengut tanpa mengerti apa yang Ibu maksud dengan kata-katanya. Aku pun terlelap setelah lelah mendengar dongeng Ibu.
Lagu yang saat ini digumamkan oleh tukang sapu itu adalah lagu pengantar tidurku. Aku tak mengerti mengapa dia tahu tentang lagu itu. Aku tak jadi bersikap pongah terhadap tukang sapu itu. Tapi aku tak mau ia masuk ke dalam kehidupanku sebagai ibu yang sekian lama aku tunggu kehadirannya.
Memang setelah kepergian Ibu, beberapa tahun kemudian Ayah turut menyusulnya. Aku dititipkan pada salah satu keluarga di Jakarta, sampai akhirnya Jakarta menjadi tempat hidupku sampai kini. Kejadian yang Ibu pesankan lewat lagu pengantar tidur itu baru saja aku sadari setelah keberadaan tukang sapu dalam lift tadi sore.
Kembali aku ke kantor pagi hari. Aku temukan surat tak bernama.
Ira, aku ibumu yang telah kembali
Mengapa tak kau akui aku sebagai ibumu
Ira, Ibu tahu kau selalu rindu akan sebuah kasih saying
Bersama surat tak bernama itu, aku temukan setangkai bunga sedap malam. Sedap malam yang masih kuncup hijau. Sedap malam yang kemudian aku hirup wanginya dalam-dalam. Belum begitu harum, tapi aku suka sedap malam yang tak mekar dan yang mengetahui ini hanyalah Ibu. Aku cari tukang sapu itu, tapi aku mendengar dia tak masuk kerja hari ini dan tak ada yang melihatnya sejak pagi. Jadi, siapa yang membawa bingkisan masa lalu bersama surat tak bernama itu?
Telepon berdering dan aku mendengar seseorang berkata. Aku kenal suara itu, suara Ibu tengah menyuapi aku waktu pulang bermain.
Ira kau suka ini, Sayang. Bacem tempe asam manis, kau suka, bukan? Ayo makan yang banyak, nanti main lagi. Cepatlah Ira, Ibu sedang menunggu kedatangan Ayah siang ini.
Siapa? Aku tanya dan telepon langsung diputus. Setelah itu aku tak pernah menjumpai tukang sapu itu. Dia pergi seperti lelatu yang hilang terkena oksigen. Aku pastikan dia bukan ibuku, tapi apa yang dikatakan hatiku bukan itu. Apalagi aku mulai merindukan kehadiran tukang sapu itu.
***
Ibu tahu kau akan merindukan kasih sayang, Ira
Kau tak boleh merendahkan aku sebagai tukang sapu
Ira, aku ibumu tapi kau tak mau mengerti
Ibu mau kau menghargai waktu, tukang sapu, dan perubahan
Secarik kertas kembali aku temukan di meja kerja. Bersama kuncup sedap malam yang cantik. Kini aku tahu bahwa tukang sapu itu ibuku, tapi semuanya terlambat.
"Ibu, aku belum siap engkau bereinkarnasi lagi!"
***
Sebuah mobil mewah meninggalkan lapangan parkir yang basah. Di dalamnya seorang perempuan menangis memanggil sebuah nama.
"Ira, Ibu takkan bereinkarnasi lagi!"***
Keterangan:
1. lelatu: bunga api
2. tathagata: orang yang telah tercerahkan

6 April 2009

6 April 2009


Hari ini usiaku telah sampai 18 tahun…
Meskipun tepatnya bukan hari ini…

Banyak hari yang telah kulewati
Banyak cerita yang telah kujalani

Aku tak tau kapan ajalku kan tiba?
Aku tak tau kapan aku meninggalkan dunia ini?

Ya Allah hari ini aku ingin kembali padamu
Sepenuhnya…
Aku ingin meninggalkan semua keburukanku…

Ya Allah.. dosa telah berakar dalam catatan amalku
Ya Allah.. hari ini aku ingin merubah semuanya
Aku ingin lebih baik

Hari ini…
Di atas kertas putih ini
Aku niatkan untuk benar – benar bertaubat pada Mu
Ya Allah Bantu hambamu ini…

Hamba benar – benar ingin berubah…
Berubah ke jalan yang lebih baik
Bukan seperti hari – hariku yang lalu

Ya Allah terimalah taubat ini
Dan terima kembali di jalan Mu…




Yogi

Ku Berhenti Menangis

Ku Berhenti Menangis
Senin, 2 Juni 2008 21:36:59 - oleh : admin
Perit nak menghadapi ketentuan dan dugaan dari Allah..aku pasrah dan terima dengan hati yang merintih..aku redha dengan ketentuan NYA.. selama enam tahun aku merintih..menanggis sendiri...hanya luaran ku ukirkan senyuman agar tiada siapa yang tahu..aku ketawa untuk melepaskan rasa sedih yang teramat sangat dalam diri..

Tiada lagi airmata yang mengalir..ku tetapkan diri diatas sejadah..agar aku kuat menjalani dugaan ini..namun..hati seorang insan yang lemah ini...adakah mampu menepis setiap airmata yang bercucuran..kini aku menanggis hanya disisi Allah...aku puas...walaupun hanya berteman kan sepi disekelilingku...tapi aku yakin hanya ini jalan untuk aku memikirkan sesuatu yang sebaik-baiknya..

Aku menahan airmata ini dari jatuh lagi...tapi aku tak mampu.....terasa sebak dan hiba bila aku mengenangkan kehidupan aku semasa bergelar 'ISTERI'..keadilan dalam perhubungan..hambar........aku penuhi segala kekurangan dalam hubungan...aku kawal perasaan terkilan dan kecewa dalam diri seorangan...aku tak mahu hampakan perasaan orang yang telah memiliki diri ini. Walaupun pada mulanya sukar aku untuk menerima yang aku telahpun bergelar Isteri pada seseorang, dan inilah KETENTUAN dari Allah..

Mengapa ini yang harus aku terima?? adakah keadilan dalam diri...semalam ku menerima satu noktah...

"apa maksud org kata saya xpandai jaga bini??!..salah saya org nampak..xtau yang laki ni bergadai nyawa demi memenuhi segala tuntutan ISTERI apa yang laki buat..semua xpernah dihargai hanya ucapan dibibir tapi bukan di hati....""

Aku tak mampu untuk memahami segalanya apa yang diberikan padaku..sesungguhnya aku bersyukur dengan pemberian Allah padaku. Aku memahami dan sentiasa memahami dengan situasi kepayahan dia suamiku..tapi dia yang tidak memahami apa yang aku rasakan. Aku kaburkan kepayahan ku, hanya semata-mata ingin mengecapi bahagia bersama..Aku sering mengingatkan dia.."bila kamu susah...aku turut susah.." tapi mengapa kata-kata yang dia berikan padaku....masih itu lagi yang diungkapkan..seolah-olah aku memang tidak memahami dirinya dan kepayahanya..adakah adil untukku?? Ya Allah....walaupun begitu...dengan senafas aku mengatakan..."terima ini dengan seiklas-iklasnya"..kerna mungkin ini Hikmah dari Allah.."..makin aku ingin menahan airmata ini lagi jatuh mengalir......aku tak pernah membanggakan diri...hanya dengan keputusan yang kubuat...hanya kerna 'hati telah berkecai..hancur...luluh...dengan setiap cara dan pertuturan yang dilemparkan padaku selama menjadi isteri...Aku penuhi kehendak apa yang sepatutnya aku jalankan sebagai seorang isteri...membantu...mengemas...memasak...melayan anak2...dan karenah suami....walaupun aku bekerja...semua itu..tak pernah aku lupakan...kesana sini aku sentiasa bertutur yang aku adalah 'isteri...'Aku termat merindukan belaian mesra yang pernah ku perolehi dulu...tapi ianya hilang...entah kemana...

Cuma, kini aku berani bersuara...aku dah tak mampu memendamkan dengan apa yang terjadi pada ku selama ini...aku lemah...dan aku sendiri melayan hakikat ini...sedih...pilu...gelisah...semua aku lalui....Pada hakikatnya..bukan ini yang aku mahukan..tapi ianya tetap berlaku..aku tetap redha.. dan aku xakan putus asa begitu sahaja..

Ku berharap agar Allah tahu apa yang aku buat ini, hanyalah kerna aku mahukan keadilan..bertapa aku memerlukan seseorang yang benar-benar aku kasihi..tapi..aku tidak milikinya..aku cuba untuk perbetulkan keadaan..walaupun hati ini dan hancur..luluh...tapi aku cuba...kali ini aku gagal dengan perasaan sendiri...diri ini sendiri marah dengan sikap sendiri..Abukan kerna aku mengikuti kata hati..tapi terlalu lama untuk aku merasakan kekecewaan ini..Aku tak mampu menjadi SEKUAT SITI HAJAR... aku hanya insan dan muslimah yang hanya mampu berserah..dan bila hati sudah tidak sekuat lagi...aku terpaksa melangkah pergi...aku terpaksa membuat keputusan ini..Demi anak-anak yang masih kecil...Banyak perkara yang perlu aku fikirkan..dan biarlah keputusan ini menjadi pengalaman aku dan erti BERUMAHTANGGA...aku akan berhenti menanggis...aku akan kuatkan diri ini dengan tawakal ku hanya pada ALLAH..insya'allah...

insan

siap tempur

Perantau yang Sukses

with 2 comments

Seorang sahabat pernah bercerita kepada saya seandainya sudah lulus dari kuliah dan bekerja dia akan mengirimkan gajinya ke orang tua nya di desa bahkan jika mencukupi dia juga akan menabung dan membeli tanah di desa nya hingga membangun sebuah rumah jikalau di hari tua nanti kembali ke kampung halaman dengan istri tercinta. Itulah tipikal seorang perantau yang sukses tidak lupa tujuan ia merantau, darimana ia berasal selalu rindu dan ber hasrat kembali ke kampung halaman.
Ada sebuah kisah menarik sebagai berikut :

Pada suatu kesempatan Sulaiman bin Abdul Malik seorang Khalifah dari Bani Umayyah memerlukan berkunjung ke Madinah untuk mencari jawaban yang memuaskan atas pertanyaan makna keberadaannya di bumi. Sesampai di Madinah, Khalifah berusaha mencari sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Walaupun sudah tiga hari menyusuri kota Madinah tak seorangpun sahabat Nabi yang dapat ditemui kecuali seorang yang bernama Abu Hazm, seorang ulama Tabi’in. Kepadanya Khalifah Sulaiman mengajukan dua pertanyaan.
Pertanyaan pertama: “Mengapa kita begitu betah hidup di dunia yang penuh dengan cobaan dan ujian. Padahal nafas dan perubahan fisik manusia dari masa ke masa pada hakekatnya adalah langkah-langkah ajal menuju liang kubur?.” Abu Hazm menjawab: “Karena kita terlalu berminat membangun istana di dunia dan lupa membangun istana di akhirat.”
Khalifah mengajukan pertanyaan kedua: “Tebaklah nasibku di akhirat kelak.” Abu Hazm menjawab: “Bercerminlah pada Al Qur’an. Renungkanlah perintah-perintah (di dalamnya) yang telah baginda lakukan dan larangan-larangan yang telah baginda hindari, di sanalah nasib baginda akan terjawab”.

Apakah kita merupakan perantau yang sukses ? apakah kita sudah menyiapkan tabungan kita jikalau kita dipanggil kembali ke kampung halaman kita yaitu kampung akhirat ? apakah kita sudah menyiapkan istana di sana ? Itulah yang sedang saya coba jawab dan kita semua harus jawab mulai dari sekarang juga.