punyaa q

punyaa q

Sunday, June 5, 2011

AIR PANCURAN DALAM KENDI

AIR PANCURAN DALAM KENDI

Hujan menyimpan dendam
pada tanah ini,
Detak jantungku gemuruh,
serta badan merinding dingin.
Tapi, apa mampu kupercaya takdir?.

Perempuan itu mempercepat langkahnya. Tinggal samar daun di ujung kelokan. Aku mencari tempat berteduh . Di bawah kubu kayu kuraba saku. Kusulut pentol korek api lalu susun ranting sisa musim kering.
“Tolong,”suara samar dari kejauhan. Ilusiku berkecamuk, au berdiri menatap sekelilingku. Aku bergegas menuju sungai. Aku terperosok di semak-semak. Bangkit dan kuyup. Di antara juntai akar Cempaka tua. Ada perempuan di sana , rambutnya masai dan patahan dahan yang menutupi sebagian tubuhnya, segera kusingkirkan. Bibirnya gigil, nafasanya terengah tangannya memapah di bahuku.
Di kubu bumbu kami duduk di tumpuk kayu. ” Aaaggkk,” tiba tiba Ia menjerit. Perihal jangkrik melayapi lengan kirinya. “ Kau cari ini,”selidiknya sambil melempar korek api ke arahku. Upps,. Beruntung kumasih ingat silat Kuntau peningalan leluhurku, sambil melompat dan menangkap korek api. Kupercikan api, di ranting dan kayu. Asap perlahan mengepul, tapi baju kami masih kuyup.
Kucoba pecahkan hening di antara kepul asap. ” Punya nama,”tanyaku padanya. Tapi, Sekedar gemeritiik api terdengar. “Oya, tunggu sebentar, aku lekas datang,” kataku padanya.Sepasang matanya memerah.
Barangkali di belakang Kubu ini ada sesuatu yang bisa kudapatkan. Tak ada cahaya bulan, sekedar ucapan selamat datang dari kawanan kabut. Sebatang korek api kuhidupkan, di dekat tungku ada sebuah kaleng bersumbu dan masih ada minyak tanah. Kukawinkan kan saja api ini dengan sumbu, lumayan sebagai penerang dadakan. Tak kuasa api menahan sapuan angin. Hingga Kelam tak mampu kuelakkan.
Aku hendak berbalik menuju Kubu bambu. Tiba-tiba tangan kananku menyentuh juntaian seperti gerai rambut.
Petir tak kunjung mangkir. Suara gesekan batang-batang, hujan seperti menyimpan dendam pada tanah ini, hingga baru sekarang bisa ia rampungkan. Detak jantungku gemuruh, badan merinding dingin. Sepucuk Al Annas kulafazkan. “ KraaaK,” tiba-tiba dahan patah. Tak peduli Hantu atau Buyutnya Jin, Lakum dinukum waliadin.
*****
Sebatang pentol korek kuhidupkan. Samar terlihat buah jagung mulai ranum, tiga onggok kubawa ke Kubu, yang entah jagung-jangung bertuan pada siapa?
Sesampainya di Kubu,tiga onggok jagung kupepulkan di api . Di mana perempuan yang duduk di sini, pikiranku berkecamuk. Jangan-jangan dia jadi santapan binatang buas. Aku memastikan di sekitar kubu, tapi tak ada jejak yang membantu. Langkahku tertuju pada punggung jurang, hulu sungai, dan rumpun belukar. Tapi tak juga kudapatkan.
Aku terjerembab di licak tanah. Guyur hujan dan tipis cahaya bulan.” Trazzz,” sendal jepitku putus. Tapi, aku terus percepat langkah. Di kelok jalan, sekedar guntur terdengar dan serakan daun-daun beracakan.
*****

Dahan cempaka tua terkoyak. Aku balik arah menuju kubu bambu . Tapi, sebelum tiba di sana. Aku berjumpa seorang lelaki kurus tinggi, jubahnya hitam , muka tak jelas bentuknya.
“ Kau mencari sesorang,” ujarnya seketika . Suaranya berat parau wajahnya menghadap bumi.”Ya, Aku sedang mencari perempuan bercadar biru benur, balasku.
“ Carilah sebuah pohon pinus yang membungkuk ke arah pematang, “tuturnya . “Setelah kau temukan pinus itu, turunlah ke lembah jurang dekat rumpun bambu betung, “Katanya lagi.
Tiba-tiba , ada kumbang semayam di betisku. Setelah kumbang itu kulepas lalu kulempar jauh. Aku hendak bertanya pada si jubah hitam, tapi ia menghilang. Nafasku bak pacu guntur musim hujan. Sepasang bola mataku terbelalak, bulu kudukku meruncing. Kemana perginya si jubah hitam,selidikku .
Ini bukan alasan untuk hentikan pencarianku. Angin menyapu kuyup daun-daun, gesekan batang-batang dan cekam hutan. Kuarahkan leherku kekanan dan kekiri sambil susuri rimbun semak, berulang-ulang kulakukan.
Aku ingat pesan si Jubah hitam : “ Carilah sebuah pohon pinus yang membungkuk ke arah pematang, Setelah kau temukan pinus itu, turunlah ke celah jurang dekat rumpun bambu betung”. Aku menemukan pohon pinus itu. Daun-daunnya lebat dan kuyup ada juga sisa sarang lelawa. Di bawah pinus, kudapati sosok perempuan. Pasi wajahnya, bibirnya gigil, rambutnya masai, lancip hidungya terasa di telunjuk jariku.
Mata perempuan itu bak genang danau Ranau. Kutuntun ia menuju kubu bambu dengan tatih langkah dan dilengkapi deras hujan, aku memapahnya.
DI atas tumpuk kayu, kubu bambu. Perempuan itu sandar pada kayu kayu yang berdirikaku.. “Tunggu sebentar aku hendak ke jurang, “ ucapku . Dengan sisa cahaya bulan, kujejal terjal jurang. Bekali-kali kau terpeleset, nyayris perutku di robek tunggul kayu.
*****
Di Jurang, kudapati sebuah batang bambu melintang dari atas gundukan, panjangnya kira-kira 47 Cm. Sebatang korek yang berhasil kuhidupankan. Kuamati di sekeliling, sambil memastikan sebuah rumpun bambu betung . Kakiku menyentuh sebuah gundukan, hampir teriinjak. Ada sebuah kendi dengan lobang di bagian atasnya pecah sebagian. Kuangkat kendi yang mungkin sudah menahun di jurang ini. Kubersihkan dengan hiliran sungai kecil, lalu kuisi dengan air pancuran jurang betung.
Setelah penuh kendi itu. lagi kudaki miring jurang, tangan kananku mengamit kendi, tangan kiriku berpegang di juntai liar akar. Setelah sampai di puncak jurang. Aku lari-lari kecil, lobang kendi kututupi dengan gulungan daun sirih.
Sesampainya di kubu bambu. Kudapati perempuan itu dengan sepasang sayu matanya.
“Ini minumlah,”sembari kusuguhkan kendi padanya. “Air apa ini,” balasnya. Air pancuran dari dalam jurang betung, semoga bermanfaat untukmu” imbuhku.
“Tidak, aku sangsi ,”tandasnya.
” Mengapa,”kejarku.
Karena aku tak mengenalimu, kilasnya.
Apa mesti kujulurkan silsilah keluaraga untuk meyakinkanmu bahwa air dalam kendi itu, tak kucampur tuba, ujarku .
“Bagiku perlu,” balasnya.
“Dalam suasana seperti ini,kau masih inginkan sebuah pengakuan,” tanyaku.
“ mengapa kau sasar di sini,” sambungku lagi
“ ya, karena aku perempuan, “imbuhnya.
“ aku dan kawan-kawan satu kampus, kemah di TaHuRa ini.
“ di mana para sahabatmu itu, “ kejarku.
“kami berpisah, karena ada Beruang Ngamuk di hutan itu” jawabnya dengan sengal nafas.
“ mengapa kau bertanya seperti itu, lalu untuk apa,” ujarku.
“ untuk perjalananku,”tandasnya.
“ mengapa kau begitu ingin tahu tentangku,” sambutku.
“ sederhana saja, karena engkau ada,” balasnya.
“ jika itu jawabanmu, akan kukatakan siapa aku : aku adalah pengembara, sejak enam puluh lima tahun yang lalu. Apa yang kau kembarakan, selidiknya.
“ aku mencari anakku, yang hilang ketika tragedi gempa di kampungku pada tahun 1945.
“ laki-laki, Ujarnya”. “ Bukan, tapi perempuan, sahutku.
“ Boleh tahu siapa namanya, sambungnya.
“ kuberi dia nama Cassia” kataku.
“ cassia, apa maknanya, sambungnya lagi.
“ cassia adalah nama tumbuhan berkulit coklat segar dan berasa manis,” runtun kalimatku.
Lalu perempuan itu megeluarkan sebilah kayu manis dari lingkaran temali di lehernya.
Barangkali jika air pancuran dalam kendi itu tak kudapat, tak jua ia meneguknya, mungkin sampai waktu yang entah, aku tak percaya pada takdir. Meskipun takdirku sendiri. Tapi kini aku doaku tentangnya hijab.

Bandarlampung,2007-2010.

No comments:

Post a Comment