punyaa q

punyaa q

Tuesday, June 7, 2011

narcissus

narcissus

1
di hijau air dan rumpun bambu ada wajah malu-malu
bermata cahaya berambut hitam lembah

di angin tipis dan gerimis harum rempah
ada kijang kencana dan kolam bening kaca

alangkah indah wajahku
alangkah megah diriku

istana yang dibangun getar bibir dan ricik air
istana pasir

sebersih salju

langit selepas hujan

semegah hidup
jantung yang tak henti berdegup


2
apakah salah
kukagumi wajah

peta
tak berarti tanah

metafora
di balik benda

nama-nama
pakaian belaka

di wajahku
kubus-kubus air
menyusun piramida

dan sungai purba
berlekuk pinggang naga

dan singgasana
dan pohon 200 tahun kitaran kuda di sampingnya
sulurnya menyimpan nyawa
daunnya—sejadah makhluk cahaya

di ranting dan dahan
hinggap burung waktu
berbulu hijau dan biru
mematuk-matuki gambar wajahmu


yang bila melepuh
berarti ruh
akan segera meninggalkan tubuh

kembali ke muasal kisah
penghulu segala resah

menjadi debu kembali
menelusup ke lubuk sulbi

lalu air mata jadi pelepas dahaga
tuan penguasa singgasana

“kita satu keluarga,”
katanya


3
bunga bungur gugur dari matamu
di jalan kuning berpagar lapuk coklat syahdu
wajahku pernah ada di situ
mengintipmu dari celah pepokok kayu

“mengapa kau tak lagi jatuh cinta padaku?”

“aku jatuh cinta kepadamu”

“mengapa tak pernah kau tatap lagi wajahku?”

“karena hanya kulihat wajahku—di wajahmu”

angin lembab dan matamu sembab

ada yang ingin kau sampaikan
ada yang kulepas dari genggam

4
empat puluh hari kau berpuasa
memperhatikan keluar-masuk nafas
melihat cerlang matamu
di kolam tubuhku

kau terperangah
melihat warna mata berganti-ganti
masa lalu hadir
merangkak dari liang kalbu

“siapakah itu?” katamu
pada wajah yang muncul di bening tubuhku


“kamu”, kataku
“tanpa masa lalu”




5
ibu adalah tunas pemberian masa lalu
masa lalu adalah tugas yang serupa sembilu
sembilu adalah bayang yang memerangkap wajahku

6
setiap musim—aku belajar
menata keping batu di pinggir kali
mendahulukan yang harus didahulukan
menyempatkan yang biasanya terlupakan

wajahmu
tergambar di keping batu itu
hening
batu yang tersusun dari patahan waktu

dan di urat hijau yang melintang di keningmu
terekam percakapan dua orang ibu--
pantas, aku kerap melihat wajahku
di wajahmu

7
mengapa kau sering merasa sia-sia
ketika mengeja usia?

tak dapat kaunikmati hening
pada pagi yang muncul laiknya perawan
yang rambut ikalnya menguning padi
yang kerling matanya umpama api

mengapa kau merasa aku menyimpan rahasia
di deru senggama dan gerak tertahan sukma









8
biru langit, buah zamrud, dan basah lumut
kecipak air, kelepak elang

wajah asmara
termangu melunta

betapa megah
wajah

betapa kekal
kesal

ribuan kali kelahiran
tak jua sampai

kerisik bambu
kerisik
kalbu

9
hijau danau
akasia rapuh
di tengahnya

padang ilalang
gubuk runtuh
di pinggirnya

bening kolam
dan sekilas wajah
betapa megah

No comments:

Post a Comment