narcissus
1
di hijau air dan rumpun bambu ada wajah malu-malu
bermata cahaya berambut hitam lembah
di angin tipis dan gerimis harum rempah
ada kijang kencana dan kolam bening kaca
alangkah indah wajahku
alangkah megah diriku
istana yang dibangun getar bibir dan ricik air
istana pasir
sebersih salju
langit selepas hujan
semegah hidup
jantung yang tak henti berdegup
2
apakah salah
kukagumi wajah
peta
tak berarti tanah
metafora
di balik benda
nama-nama
pakaian belaka
di wajahku
kubus-kubus air
menyusun piramida
dan sungai purba
berlekuk pinggang naga
dan singgasana
dan pohon 200 tahun kitaran kuda di sampingnya
sulurnya menyimpan nyawa
daunnya—sejadah makhluk cahaya
di ranting dan dahan
hinggap burung waktu
berbulu hijau dan biru
mematuk-matuki gambar wajahmu
yang bila melepuh
berarti ruh
akan segera meninggalkan tubuh
kembali ke muasal kisah
penghulu segala resah
menjadi debu kembali
menelusup ke lubuk sulbi
lalu air mata jadi pelepas dahaga
tuan penguasa singgasana
“kita satu keluarga,”
katanya
3
bunga bungur gugur dari matamu
di jalan kuning berpagar lapuk coklat syahdu
wajahku pernah ada di situ
mengintipmu dari celah pepokok kayu
“mengapa kau tak lagi jatuh cinta padaku?”
“aku jatuh cinta kepadamu”
“mengapa tak pernah kau tatap lagi wajahku?”
“karena hanya kulihat wajahku—di wajahmu”
angin lembab dan matamu sembab
ada yang ingin kau sampaikan
ada yang kulepas dari genggam
4
empat puluh hari kau berpuasa
memperhatikan keluar-masuk nafas
melihat cerlang matamu
di kolam tubuhku
kau terperangah
melihat warna mata berganti-ganti
masa lalu hadir
merangkak dari liang kalbu
“siapakah itu?” katamu
pada wajah yang muncul di bening tubuhku
“kamu”, kataku
“tanpa masa lalu”
5
ibu adalah tunas pemberian masa lalu
masa lalu adalah tugas yang serupa sembilu
sembilu adalah bayang yang memerangkap wajahku
6
setiap musim—aku belajar
menata keping batu di pinggir kali
mendahulukan yang harus didahulukan
menyempatkan yang biasanya terlupakan
wajahmu
tergambar di keping batu itu
hening
batu yang tersusun dari patahan waktu
dan di urat hijau yang melintang di keningmu
terekam percakapan dua orang ibu--
pantas, aku kerap melihat wajahku
di wajahmu
7
mengapa kau sering merasa sia-sia
ketika mengeja usia?
tak dapat kaunikmati hening
pada pagi yang muncul laiknya perawan
yang rambut ikalnya menguning padi
yang kerling matanya umpama api
mengapa kau merasa aku menyimpan rahasia
di deru senggama dan gerak tertahan sukma
8
biru langit, buah zamrud, dan basah lumut
kecipak air, kelepak elang
wajah asmara
termangu melunta
betapa megah
wajah
betapa kekal
kesal
ribuan kali kelahiran
tak jua sampai
kerisik bambu
kerisik
kalbu
9
hijau danau
akasia rapuh
di tengahnya
padang ilalang
gubuk runtuh
di pinggirnya
bening kolam
dan sekilas wajah
betapa megah
No comments:
Post a Comment