punyaa q

punyaa q

Sunday, June 5, 2011

Djejak Roemah Terakhir

Djejak Roemah Terakhir

1

ada sekilas jejakmu kulihat di tanah berpasir
segera hilang di kening sore terakhir
meski lidah laut mengais-ngais ingin memanggil
kerlingmu lenyap, sisakan riwayat yang mungkir

sore redam, laut lebam, suhu teduh di sisi perahu runtuh
di senyap—aku berlayar
berselancar di keheningan
bertamu di lubuk kabut
dan menceracau menyebut ujudmu samar

kucari kau di situ; di antara gerak ragu dan perahu runtuh
kukais jejakmu, ruh yang ingin sekadar sauh
kutunggu kau di situ; di belukar semak dan jalan setapak
meski berahi padam, di sela azan menghambur datang

aku tahu—tak ada yang abadi di tanah berpasir ini
matahari tak di nanti, seperti kopi pagi hari
dan pelukan erat sang istri
tapi, di kekelaman hutan dan rumpun kabut menjelang malam
pasti kau tahu—aku akan selalu menunggumu
menggurat lagi letih jejakmu. Tanpa debu untuk disapu
tanpa paku atau sembilu

2

tubuhku penuh luka akibat pisau pada ciummu.
kadang di akhir dengus percakapan
pernah ingin kulunaskan percintaan ini
tapi, jejakmu kerap membuatku ngeri
sejumlah pulau pernah kau jangkau
membuat bakau tubuhku tenggelam separuh badan
aha, di kelindan duri dan cecap berahi
kau berteriak meminta mati!

















3

jejakmu cuma cap bahwa kita pernah dekat
tak usah menunggu
untuk sesuatu yang kau ragu
pernah kuucap dulu—ada sebutir peluru
di siku saku bajumu
mungkin kau lupa dan balik menuduhku


kita hidup, bercinta, dan saling meraba
tidak untuk apa
hanya mengukir alur luka
di kujur kulit fana,
menelisikkan asing di tubuh masing
membenamkan kelam
waktu kau dan aku saling genggam

ciumanmu akan selalu tinggal rahasia
di ujung lidah basah
dan musang di perut yang meronta

lewat diam—akan kutorehkan jejakmu kini
dan kau takkan pernah mati

No comments:

Post a Comment