bangku kayu dan siapa nama aslimu
sayang aku tak sempat bertanya
siapa nama aslimu
di cuaca beku, kita bertemu
berjabat tangan, bertukar alamat
memperlihatkan potret diri masing-masing
seperti tak ingin jadi palsu
ada cengkerama di pemakaman di sebelah taman
kutunjukkan potret ayahku--
tekun, di beku bangku kayu
menjahit pakaian ibu
sedang kau mengurai lapuk serpih salju
lapangan rumput, kawanan kupu
dan kalimat-kalimat yang telah jadi yatim
dalam buku harian
lenguh kita hilang di telan kenangan
tubuh mencair, membasahi dedaunan
menguap, membentuk sehimpun asap ungu
berikut bayang panjang
di kolam tengah taman
—seandainya dirimu kekal di situ
di bangku kayu, di huruf buku
di pose lelah lelaki
yang memegang payung di sisi pintu sebuah binatu
tapi, mungkin kenangan pun palsu
tak terbayang oleh kepala yang beku
“mungkin kita dapat tamasya bersama?” katamu
kita bisa mainkan drama yang dikarang ayah
sebagai pembunuh waktu
kau bisa menulisi kembali buku harian
dan aku menyiram bunga plastik
di sisi pagar halaman rumah-rumahan
“ seperti dulu,” kataku
sebelum kau berkenalan denganku
sebelum ada kota lain, di tengah cuaca palsu
di bangku kayu, di pemakaman itu
No comments:
Post a Comment