Yogi Aprianto
punyaa q
Tuesday, June 7, 2011
bangku kayu dan siapa nama aslimu
bangku kayu dan siapa nama aslimu
sayang aku tak sempat bertanya
siapa nama aslimu
di cuaca beku, kita bertemu
berjabat tangan, bertukar alamat
memperlihatkan potret diri masing-masing
seperti tak ingin jadi palsu
ada cengkerama di pemakaman di sebelah taman
kutunjukkan potret ayahku--
tekun, di beku bangku kayu
menjahit pakaian ibu
sedang kau mengurai lapuk serpih salju
lapangan rumput, kawanan kupu
dan kalimat-kalimat yang telah jadi yatim
dalam buku harian
lenguh kita hilang di telan kenangan
tubuh mencair, membasahi dedaunan
menguap, membentuk sehimpun asap ungu
berikut bayang panjang
di kolam tengah taman
—seandainya dirimu kekal di situ
di bangku kayu, di huruf buku
di pose lelah lelaki
yang memegang payung di sisi pintu sebuah binatu
tapi, mungkin kenangan pun palsu
tak terbayang oleh kepala yang beku
“mungkin kita dapat tamasya bersama?” katamu
kita bisa mainkan drama yang dikarang ayah
sebagai pembunuh waktu
kau bisa menulisi kembali buku harian
dan aku menyiram bunga plastik
di sisi pagar halaman rumah-rumahan
“ seperti dulu,” kataku
sebelum kau berkenalan denganku
sebelum ada kota lain, di tengah cuaca palsu
di bangku kayu, di pemakaman itu
sayang aku tak sempat bertanya
siapa nama aslimu
di cuaca beku, kita bertemu
berjabat tangan, bertukar alamat
memperlihatkan potret diri masing-masing
seperti tak ingin jadi palsu
ada cengkerama di pemakaman di sebelah taman
kutunjukkan potret ayahku--
tekun, di beku bangku kayu
menjahit pakaian ibu
sedang kau mengurai lapuk serpih salju
lapangan rumput, kawanan kupu
dan kalimat-kalimat yang telah jadi yatim
dalam buku harian
lenguh kita hilang di telan kenangan
tubuh mencair, membasahi dedaunan
menguap, membentuk sehimpun asap ungu
berikut bayang panjang
di kolam tengah taman
—seandainya dirimu kekal di situ
di bangku kayu, di huruf buku
di pose lelah lelaki
yang memegang payung di sisi pintu sebuah binatu
tapi, mungkin kenangan pun palsu
tak terbayang oleh kepala yang beku
“mungkin kita dapat tamasya bersama?” katamu
kita bisa mainkan drama yang dikarang ayah
sebagai pembunuh waktu
kau bisa menulisi kembali buku harian
dan aku menyiram bunga plastik
di sisi pagar halaman rumah-rumahan
“ seperti dulu,” kataku
sebelum kau berkenalan denganku
sebelum ada kota lain, di tengah cuaca palsu
di bangku kayu, di pemakaman itu
narcissus
narcissus
1
di hijau air dan rumpun bambu ada wajah malu-malu
bermata cahaya berambut hitam lembah
di angin tipis dan gerimis harum rempah
ada kijang kencana dan kolam bening kaca
alangkah indah wajahku
alangkah megah diriku
istana yang dibangun getar bibir dan ricik air
istana pasir
sebersih salju
langit selepas hujan
semegah hidup
jantung yang tak henti berdegup
2
apakah salah
kukagumi wajah
peta
tak berarti tanah
metafora
di balik benda
nama-nama
pakaian belaka
di wajahku
kubus-kubus air
menyusun piramida
dan sungai purba
berlekuk pinggang naga
dan singgasana
dan pohon 200 tahun kitaran kuda di sampingnya
sulurnya menyimpan nyawa
daunnya—sejadah makhluk cahaya
di ranting dan dahan
hinggap burung waktu
berbulu hijau dan biru
mematuk-matuki gambar wajahmu
yang bila melepuh
berarti ruh
akan segera meninggalkan tubuh
kembali ke muasal kisah
penghulu segala resah
menjadi debu kembali
menelusup ke lubuk sulbi
lalu air mata jadi pelepas dahaga
tuan penguasa singgasana
“kita satu keluarga,”
katanya
3
bunga bungur gugur dari matamu
di jalan kuning berpagar lapuk coklat syahdu
wajahku pernah ada di situ
mengintipmu dari celah pepokok kayu
“mengapa kau tak lagi jatuh cinta padaku?”
“aku jatuh cinta kepadamu”
“mengapa tak pernah kau tatap lagi wajahku?”
“karena hanya kulihat wajahku—di wajahmu”
angin lembab dan matamu sembab
ada yang ingin kau sampaikan
ada yang kulepas dari genggam
4
empat puluh hari kau berpuasa
memperhatikan keluar-masuk nafas
melihat cerlang matamu
di kolam tubuhku
kau terperangah
melihat warna mata berganti-ganti
masa lalu hadir
merangkak dari liang kalbu
“siapakah itu?” katamu
pada wajah yang muncul di bening tubuhku
“kamu”, kataku
“tanpa masa lalu”
5
ibu adalah tunas pemberian masa lalu
masa lalu adalah tugas yang serupa sembilu
sembilu adalah bayang yang memerangkap wajahku
6
setiap musim—aku belajar
menata keping batu di pinggir kali
mendahulukan yang harus didahulukan
menyempatkan yang biasanya terlupakan
wajahmu
tergambar di keping batu itu
hening
batu yang tersusun dari patahan waktu
dan di urat hijau yang melintang di keningmu
terekam percakapan dua orang ibu--
pantas, aku kerap melihat wajahku
di wajahmu
7
mengapa kau sering merasa sia-sia
ketika mengeja usia?
tak dapat kaunikmati hening
pada pagi yang muncul laiknya perawan
yang rambut ikalnya menguning padi
yang kerling matanya umpama api
mengapa kau merasa aku menyimpan rahasia
di deru senggama dan gerak tertahan sukma
8
biru langit, buah zamrud, dan basah lumut
kecipak air, kelepak elang
wajah asmara
termangu melunta
betapa megah
wajah
betapa kekal
kesal
ribuan kali kelahiran
tak jua sampai
kerisik bambu
kerisik
kalbu
9
hijau danau
akasia rapuh
di tengahnya
padang ilalang
gubuk runtuh
di pinggirnya
bening kolam
dan sekilas wajah
betapa megah
1
di hijau air dan rumpun bambu ada wajah malu-malu
bermata cahaya berambut hitam lembah
di angin tipis dan gerimis harum rempah
ada kijang kencana dan kolam bening kaca
alangkah indah wajahku
alangkah megah diriku
istana yang dibangun getar bibir dan ricik air
istana pasir
sebersih salju
langit selepas hujan
semegah hidup
jantung yang tak henti berdegup
2
apakah salah
kukagumi wajah
peta
tak berarti tanah
metafora
di balik benda
nama-nama
pakaian belaka
di wajahku
kubus-kubus air
menyusun piramida
dan sungai purba
berlekuk pinggang naga
dan singgasana
dan pohon 200 tahun kitaran kuda di sampingnya
sulurnya menyimpan nyawa
daunnya—sejadah makhluk cahaya
di ranting dan dahan
hinggap burung waktu
berbulu hijau dan biru
mematuk-matuki gambar wajahmu
yang bila melepuh
berarti ruh
akan segera meninggalkan tubuh
kembali ke muasal kisah
penghulu segala resah
menjadi debu kembali
menelusup ke lubuk sulbi
lalu air mata jadi pelepas dahaga
tuan penguasa singgasana
“kita satu keluarga,”
katanya
3
bunga bungur gugur dari matamu
di jalan kuning berpagar lapuk coklat syahdu
wajahku pernah ada di situ
mengintipmu dari celah pepokok kayu
“mengapa kau tak lagi jatuh cinta padaku?”
“aku jatuh cinta kepadamu”
“mengapa tak pernah kau tatap lagi wajahku?”
“karena hanya kulihat wajahku—di wajahmu”
angin lembab dan matamu sembab
ada yang ingin kau sampaikan
ada yang kulepas dari genggam
4
empat puluh hari kau berpuasa
memperhatikan keluar-masuk nafas
melihat cerlang matamu
di kolam tubuhku
kau terperangah
melihat warna mata berganti-ganti
masa lalu hadir
merangkak dari liang kalbu
“siapakah itu?” katamu
pada wajah yang muncul di bening tubuhku
“kamu”, kataku
“tanpa masa lalu”
5
ibu adalah tunas pemberian masa lalu
masa lalu adalah tugas yang serupa sembilu
sembilu adalah bayang yang memerangkap wajahku
6
setiap musim—aku belajar
menata keping batu di pinggir kali
mendahulukan yang harus didahulukan
menyempatkan yang biasanya terlupakan
wajahmu
tergambar di keping batu itu
hening
batu yang tersusun dari patahan waktu
dan di urat hijau yang melintang di keningmu
terekam percakapan dua orang ibu--
pantas, aku kerap melihat wajahku
di wajahmu
7
mengapa kau sering merasa sia-sia
ketika mengeja usia?
tak dapat kaunikmati hening
pada pagi yang muncul laiknya perawan
yang rambut ikalnya menguning padi
yang kerling matanya umpama api
mengapa kau merasa aku menyimpan rahasia
di deru senggama dan gerak tertahan sukma
8
biru langit, buah zamrud, dan basah lumut
kecipak air, kelepak elang
wajah asmara
termangu melunta
betapa megah
wajah
betapa kekal
kesal
ribuan kali kelahiran
tak jua sampai
kerisik bambu
kerisik
kalbu
9
hijau danau
akasia rapuh
di tengahnya
padang ilalang
gubuk runtuh
di pinggirnya
bening kolam
dan sekilas wajah
betapa megah
Sunday, June 5, 2011
Djejak Roemah Terakhir
Djejak Roemah Terakhir
1
ada sekilas jejakmu kulihat di tanah berpasir
segera hilang di kening sore terakhir
meski lidah laut mengais-ngais ingin memanggil
kerlingmu lenyap, sisakan riwayat yang mungkir
sore redam, laut lebam, suhu teduh di sisi perahu runtuh
di senyap—aku berlayar
berselancar di keheningan
bertamu di lubuk kabut
dan menceracau menyebut ujudmu samar
kucari kau di situ; di antara gerak ragu dan perahu runtuh
kukais jejakmu, ruh yang ingin sekadar sauh
kutunggu kau di situ; di belukar semak dan jalan setapak
meski berahi padam, di sela azan menghambur datang
aku tahu—tak ada yang abadi di tanah berpasir ini
matahari tak di nanti, seperti kopi pagi hari
dan pelukan erat sang istri
tapi, di kekelaman hutan dan rumpun kabut menjelang malam
pasti kau tahu—aku akan selalu menunggumu
menggurat lagi letih jejakmu. Tanpa debu untuk disapu
tanpa paku atau sembilu
2
tubuhku penuh luka akibat pisau pada ciummu.
kadang di akhir dengus percakapan
pernah ingin kulunaskan percintaan ini
tapi, jejakmu kerap membuatku ngeri
sejumlah pulau pernah kau jangkau
membuat bakau tubuhku tenggelam separuh badan
aha, di kelindan duri dan cecap berahi
kau berteriak meminta mati!
3
jejakmu cuma cap bahwa kita pernah dekat
tak usah menunggu
untuk sesuatu yang kau ragu
pernah kuucap dulu—ada sebutir peluru
di siku saku bajumu
mungkin kau lupa dan balik menuduhku
kita hidup, bercinta, dan saling meraba
tidak untuk apa
hanya mengukir alur luka
di kujur kulit fana,
menelisikkan asing di tubuh masing
membenamkan kelam
waktu kau dan aku saling genggam
ciumanmu akan selalu tinggal rahasia
di ujung lidah basah
dan musang di perut yang meronta
lewat diam—akan kutorehkan jejakmu kini
dan kau takkan pernah mati
1
ada sekilas jejakmu kulihat di tanah berpasir
segera hilang di kening sore terakhir
meski lidah laut mengais-ngais ingin memanggil
kerlingmu lenyap, sisakan riwayat yang mungkir
sore redam, laut lebam, suhu teduh di sisi perahu runtuh
di senyap—aku berlayar
berselancar di keheningan
bertamu di lubuk kabut
dan menceracau menyebut ujudmu samar
kucari kau di situ; di antara gerak ragu dan perahu runtuh
kukais jejakmu, ruh yang ingin sekadar sauh
kutunggu kau di situ; di belukar semak dan jalan setapak
meski berahi padam, di sela azan menghambur datang
aku tahu—tak ada yang abadi di tanah berpasir ini
matahari tak di nanti, seperti kopi pagi hari
dan pelukan erat sang istri
tapi, di kekelaman hutan dan rumpun kabut menjelang malam
pasti kau tahu—aku akan selalu menunggumu
menggurat lagi letih jejakmu. Tanpa debu untuk disapu
tanpa paku atau sembilu
2
tubuhku penuh luka akibat pisau pada ciummu.
kadang di akhir dengus percakapan
pernah ingin kulunaskan percintaan ini
tapi, jejakmu kerap membuatku ngeri
sejumlah pulau pernah kau jangkau
membuat bakau tubuhku tenggelam separuh badan
aha, di kelindan duri dan cecap berahi
kau berteriak meminta mati!
3
jejakmu cuma cap bahwa kita pernah dekat
tak usah menunggu
untuk sesuatu yang kau ragu
pernah kuucap dulu—ada sebutir peluru
di siku saku bajumu
mungkin kau lupa dan balik menuduhku
kita hidup, bercinta, dan saling meraba
tidak untuk apa
hanya mengukir alur luka
di kujur kulit fana,
menelisikkan asing di tubuh masing
membenamkan kelam
waktu kau dan aku saling genggam
ciumanmu akan selalu tinggal rahasia
di ujung lidah basah
dan musang di perut yang meronta
lewat diam—akan kutorehkan jejakmu kini
dan kau takkan pernah mati
bulan dalam kendi
bulan dalam kendi
1
melewati peluh belukar malam
aku bersamamu
menyusuri lekuk rimbun taman
tertatih kau bersamaku
mata nyalang mencari-cari
di manakah bunga dinamakan api
memasuki kecut lidah kabut
kau dan aku gugup
membayang hujan bergandeng tangan
kau - aku menduga angan
apakah itu dendam bisikmu redam
saat kunang lebih cekam ketimbang pedang
engkau perempuan
aku sehimpun diam
2
apa dicari
selarik tamsil pada musim
berapa umpat kau simpan
hingga tak sanggup kutelan
apa kan ditebak
bila degup kian congkak
berapa kan terbilang
bila diri perlahan hilang
mengapa kau diam
tak inginkah kau telanjang
bila bosan kau sibak malam
sempurna sudah pertemuan
tak guna baju terpakai
jika jantung mendegup lunglai
apa dinanti
selarik diri dalam puisi
apa dicari
selarik puisi dalam diri
3
kau ucap namaku
lalu namaku
melarut ke dirimu
kuucap namamu
lalu namamu
melesap ke diriku
kita lupa nama
lupa wajah
penuh luka
nama kita lupa
atau luka
tanpa nama
lalu di mana wajah
bila lupa
pada luka
kau ucap nama lupa
kuucap nama luka
wajah yang lupa nama
wajah yang lupa luka
4
kau memata-mataiku
padahal matamu
api dalam mataku
sempurna
1
melewati peluh belukar malam
aku bersamamu
menyusuri lekuk rimbun taman
tertatih kau bersamaku
mata nyalang mencari-cari
di manakah bunga dinamakan api
memasuki kecut lidah kabut
kau dan aku gugup
membayang hujan bergandeng tangan
kau - aku menduga angan
apakah itu dendam bisikmu redam
saat kunang lebih cekam ketimbang pedang
engkau perempuan
aku sehimpun diam
2
apa dicari
selarik tamsil pada musim
berapa umpat kau simpan
hingga tak sanggup kutelan
apa kan ditebak
bila degup kian congkak
berapa kan terbilang
bila diri perlahan hilang
mengapa kau diam
tak inginkah kau telanjang
bila bosan kau sibak malam
sempurna sudah pertemuan
tak guna baju terpakai
jika jantung mendegup lunglai
apa dinanti
selarik diri dalam puisi
apa dicari
selarik puisi dalam diri
3
kau ucap namaku
lalu namaku
melarut ke dirimu
kuucap namamu
lalu namamu
melesap ke diriku
kita lupa nama
lupa wajah
penuh luka
nama kita lupa
atau luka
tanpa nama
lalu di mana wajah
bila lupa
pada luka
kau ucap nama lupa
kuucap nama luka
wajah yang lupa nama
wajah yang lupa luka
4
kau memata-mataiku
padahal matamu
api dalam mataku
sempurna
cawan sepasang sungai
cawan sepasang sungai
Dua sungai yang lama tak bertemu kini telah bertemu
Mereka berpelukan, setelah tegur sapa terlupakan
Mengisahkan kenangannya masing-masing
Tentang masa kecil, tentang luka di lengan
Tentang malam terakhir persetubuhan
Di sebuah atap rumah
Saat purnama menjanda
saat kabut berlari ke sana-ke mari
Menggonggong seperti anjing dan burung jalak
Ketika musim semi merekahkan sabdanya
Ketika keinginan untuk bertemu
sama kuatnya dengan keinginan untuk berpisah
Di sana mereka bertemu kembali
Sungai pertama memperlihatkan boreh di pipinya
“tanda ini kudapat saat aku berusaha mencium bibirmu,
dan kau tak mau,” katanya
sungai kedua tersenyum,” itulah akibat bila kau meragu
di tengah pilihan untuk tak meragu,” ujarmu
tapi sudahlah, semua telah berlalu
berlalu seperti bulu-bulu hari yang berlepasan, berterbangan
ditiup lidah angin yang takkan kunjung usai
dan borehan itu—adalah masa lalu
Dan masa lalu adalah
air yang pernah mengalir di tubuhmu
tak ingin menetap, tak ingin menjadi abadi,
tak ingin mati, dan angkuh seperti batu|
yang selalu bersitegang kepada waktu
dan kau, kekasihku. Dulu..
ujar sungai pertama sambil meninju kecil
ujung lengan baju sungai kedua
takkah kau lihat bekas gigitanmu di leherku, kata sungai kedua
kau rupanya geram dulu
saat kau tahu kalau aku telah berselingkuh dengan Waktu
untuk menjadi abadi
di alir nadi.
Rupanya kau merasa malu
Mengapa sungai pejantan seperti kau
Harus takluk di bawah bibir sungai perempuan
dengan keangkuhan yang tak jelas juntrungnya itu
Kau lampiaskan dengan mengigit leherku
Menggigit perjanjian antara aku dan Waktu
Tapi, itu masa lalu
Dan kini kita bertemu
Bukankah isyarat ini buah pohon Waktu
berulangkali lahir tanpa kata akhir
Tanpa tanda seru
Sepasang sungai yang bersetubuh
Seperti sepasang merak yang pancarkan warna purnama
Cahaya yang jadi ilham hujan dan kemarau
Untuk acuh kepada debu atau dingin ruang tunggu
Dan, buktinya, aku tetap menunggumu
Ya, kau tetap menungguku
Bukankah menunggu adalah bagian lain setangkup musim
Segulung peta, bersit koma
Dan jeda saat kereta tiba
Saat penumpang bergegas mengusung jenazah
Bukankah menunggu adalah istirah
Perihal yang selalu muncul dari mata air rutin
Secabik hening di antara praduga
derita yang bahagia
Dan, kau juga menungguku
Sebenarnya aku menunggu diriku sendiri
Memastikan, apakah laut yang asin
Tetap mengandung garam
Suasana yang terbangun dari buah makam cahaya
sSekerjap bidikan di atas badan sang pencipta
Iringan jenazah, tangkai bunga, dan
Altar penuh darah
Darah yang terbit
dari keinginan
menjadi abadi
jadi duri
Bagi Waktu,
bagi lintasan kematian yang selalu berkunjung
Seperti tukang pos yang hadir di depan rumah
tergesa mengetuk pintu
Mengantar surat lamaran
Dari pemilik malam
Atau semacam metafora
Istilah untuk mengatakan yang tak terkatakan--
Buih dan rona koral di pipi lautan
kering mulut pantai ketika pasir terbakar
Bukan oleh api dan badai, tapi oleh hasrat
Untuk menguasai diri
Pertapaan yang kau kunjungi setiap saat
Setiap detik, hingga ke abad
Di jubahmu yang kuning dan berdebu
Waktu sembunyi umpama kepala penyu
Umpama racun ular, dan raung kucing hutan
Saat ingin mencekam lawan
Saat ingin menerkam diam
Bulan karam di bawah lidah
Lidahmu menyimpan rumpunan dedaunan
Daunan itu yang selalu menzikirkan nama tuhan
Tuhan yang mengembarai badan
Badan di mana bulan pun karam
Metafora. Kalimat tanpa warna
Kalimat yang kau bisikkan berulangkali padaku
Yang kini terlampau tua
Dan hancur oleh geram cuaca
Cuaca. Warna. Sulaman kebun teh dan hijau daun angsana
Mahkota para dewa. Cahaya tipis dari seruling
Para raksasa
Kini aku ingin melihat kenyataan. Tanpa cuaca
Tanpa praduga
Aku ingin kau berkata apa adanya
Tanpa prasangka
Melihat sungai hanya sebagai sungai
Melihat air dan turut mengalir
Melihat laut—dan kau melompat bersama kabut
Bersama tiang-tiang kapal, liukan ikan
Dan gelisah mata mercusuar
Metafora dan mataku telah menjadi buta
Cukup lama kita saling melupakan
Cukup lama kita saling meninggalkan
Padahal muara—tempat di mana kita akan saling menjumpa
Telah lama menanti dengan pasrah
Muara adalah mahligai perkawinan
Aku dan engkau
Masa lalu dan masa depan
Perkawinan dan perceraian
Karenanya, kekasihku, sungai bergambar bulan
Peluk aku sekarang
Dan jangan berkomentar
Cukup bila kau diam
Hanyut segala silam
Pegang tanganku dan hayati sedih waktu
Yang tak mampu memerangkap kita
Dengan bilah-bilahnya yang angkuh
Karena kita berdua sungai
Dipisah oleh tanah
Tapi bersatu dalam gelora
Dua sungai yang lama tak bertemu kini telah bertemu
Mereka berpelukan, setelah tegur sapa terlupakan
Mengisahkan kenangannya masing-masing
Tentang masa kecil, tentang luka di lengan
Tentang malam terakhir persetubuhan
Di sebuah atap rumah
Saat purnama menjanda
saat kabut berlari ke sana-ke mari
Menggonggong seperti anjing dan burung jalak
Ketika musim semi merekahkan sabdanya
Ketika keinginan untuk bertemu
sama kuatnya dengan keinginan untuk berpisah
Di sana mereka bertemu kembali
Sungai pertama memperlihatkan boreh di pipinya
“tanda ini kudapat saat aku berusaha mencium bibirmu,
dan kau tak mau,” katanya
sungai kedua tersenyum,” itulah akibat bila kau meragu
di tengah pilihan untuk tak meragu,” ujarmu
tapi sudahlah, semua telah berlalu
berlalu seperti bulu-bulu hari yang berlepasan, berterbangan
ditiup lidah angin yang takkan kunjung usai
dan borehan itu—adalah masa lalu
Dan masa lalu adalah
air yang pernah mengalir di tubuhmu
tak ingin menetap, tak ingin menjadi abadi,
tak ingin mati, dan angkuh seperti batu|
yang selalu bersitegang kepada waktu
dan kau, kekasihku. Dulu..
ujar sungai pertama sambil meninju kecil
ujung lengan baju sungai kedua
takkah kau lihat bekas gigitanmu di leherku, kata sungai kedua
kau rupanya geram dulu
saat kau tahu kalau aku telah berselingkuh dengan Waktu
untuk menjadi abadi
di alir nadi.
Rupanya kau merasa malu
Mengapa sungai pejantan seperti kau
Harus takluk di bawah bibir sungai perempuan
dengan keangkuhan yang tak jelas juntrungnya itu
Kau lampiaskan dengan mengigit leherku
Menggigit perjanjian antara aku dan Waktu
Tapi, itu masa lalu
Dan kini kita bertemu
Bukankah isyarat ini buah pohon Waktu
berulangkali lahir tanpa kata akhir
Tanpa tanda seru
Sepasang sungai yang bersetubuh
Seperti sepasang merak yang pancarkan warna purnama
Cahaya yang jadi ilham hujan dan kemarau
Untuk acuh kepada debu atau dingin ruang tunggu
Dan, buktinya, aku tetap menunggumu
Ya, kau tetap menungguku
Bukankah menunggu adalah bagian lain setangkup musim
Segulung peta, bersit koma
Dan jeda saat kereta tiba
Saat penumpang bergegas mengusung jenazah
Bukankah menunggu adalah istirah
Perihal yang selalu muncul dari mata air rutin
Secabik hening di antara praduga
derita yang bahagia
Dan, kau juga menungguku
Sebenarnya aku menunggu diriku sendiri
Memastikan, apakah laut yang asin
Tetap mengandung garam
Suasana yang terbangun dari buah makam cahaya
sSekerjap bidikan di atas badan sang pencipta
Iringan jenazah, tangkai bunga, dan
Altar penuh darah
Darah yang terbit
dari keinginan
menjadi abadi
jadi duri
Bagi Waktu,
bagi lintasan kematian yang selalu berkunjung
Seperti tukang pos yang hadir di depan rumah
tergesa mengetuk pintu
Mengantar surat lamaran
Dari pemilik malam
Atau semacam metafora
Istilah untuk mengatakan yang tak terkatakan--
Buih dan rona koral di pipi lautan
kering mulut pantai ketika pasir terbakar
Bukan oleh api dan badai, tapi oleh hasrat
Untuk menguasai diri
Pertapaan yang kau kunjungi setiap saat
Setiap detik, hingga ke abad
Di jubahmu yang kuning dan berdebu
Waktu sembunyi umpama kepala penyu
Umpama racun ular, dan raung kucing hutan
Saat ingin mencekam lawan
Saat ingin menerkam diam
Bulan karam di bawah lidah
Lidahmu menyimpan rumpunan dedaunan
Daunan itu yang selalu menzikirkan nama tuhan
Tuhan yang mengembarai badan
Badan di mana bulan pun karam
Metafora. Kalimat tanpa warna
Kalimat yang kau bisikkan berulangkali padaku
Yang kini terlampau tua
Dan hancur oleh geram cuaca
Cuaca. Warna. Sulaman kebun teh dan hijau daun angsana
Mahkota para dewa. Cahaya tipis dari seruling
Para raksasa
Kini aku ingin melihat kenyataan. Tanpa cuaca
Tanpa praduga
Aku ingin kau berkata apa adanya
Tanpa prasangka
Melihat sungai hanya sebagai sungai
Melihat air dan turut mengalir
Melihat laut—dan kau melompat bersama kabut
Bersama tiang-tiang kapal, liukan ikan
Dan gelisah mata mercusuar
Metafora dan mataku telah menjadi buta
Cukup lama kita saling melupakan
Cukup lama kita saling meninggalkan
Padahal muara—tempat di mana kita akan saling menjumpa
Telah lama menanti dengan pasrah
Muara adalah mahligai perkawinan
Aku dan engkau
Masa lalu dan masa depan
Perkawinan dan perceraian
Karenanya, kekasihku, sungai bergambar bulan
Peluk aku sekarang
Dan jangan berkomentar
Cukup bila kau diam
Hanyut segala silam
Pegang tanganku dan hayati sedih waktu
Yang tak mampu memerangkap kita
Dengan bilah-bilahnya yang angkuh
Karena kita berdua sungai
Dipisah oleh tanah
Tapi bersatu dalam gelora
rumah hujan dan waktu
rumah hujan dan waktu
waktu turun bersama hujan.
perempuan
bersejingkat, menepi ke pelataran
aku mengintipnya dari balik tiang batu,
di pelataran gedung,
di seberangnya
menerka-nerka,
apa yang sedang dipikirkan perempuan --
apakah tentang secangkir teh hangat,
rombongan orang berpayung atau tentang aku,
yang menatapnya lekat
di balik tiang batu
hujan yang turun, adakah
rencana baru dari waktu
siapa di antara kami berdua
yang harus pergi lebih dulu
meninggalkan gedung itu
sangkar sang waktu
waktu turun bersama hujan.
perempuan
bersejingkat, menepi ke pelataran
aku mengintipnya dari balik tiang batu,
di pelataran gedung,
di seberangnya
menerka-nerka,
apa yang sedang dipikirkan perempuan --
apakah tentang secangkir teh hangat,
rombongan orang berpayung atau tentang aku,
yang menatapnya lekat
di balik tiang batu
hujan yang turun, adakah
rencana baru dari waktu
siapa di antara kami berdua
yang harus pergi lebih dulu
meninggalkan gedung itu
sangkar sang waktu
Subscribe to:
Comments (Atom)
